Save our life with love

Kebiasaan Teriak: Membunuh Roh atau Membangkitkan Roh?

Posted by: dewipadi on: September 12, 2008

Membangkitkan Roh.Tiba-tiba saya mendapat email isinya tentang jangan berteriak. Menukil kebiasaan/tradisi orang Solomon yang suka berteriak untuk membunuh pohon. Cara yang sama bisa kita gunakan untuk membunuh apapun dalam hubungannya dengan manusia: bakat, keinginan, karier, cita-cita, keingintahuan, dan lain sebagainya. Sayangnya sumber yang asli dari tulisan ini sulit saya dapatkan–maaf saya belum telusuri sumber berbahasa ingris. Tulisan ini berkeliaran di milis-milis dan juga di blog-blog.

Namun sebaliknya dalam dunia motivasi, teriakan-teriakan diguanakan untuk membangkitkan roh agar bangun dan semangat. “Luar Biasa!!”, teriak Andrie Wongso, motivator no 1 di Indonesia. Dalam kesempatan yang lain motivator-motivator jg menyarankan untuk berteriak didepan cermin pada diri sendiri untuk membangkitkan roh, kekuatan, ketekunan, keteguhan dan juga kesabaran.

Mungkin yang benar bukan “berteriaknya” tetapi “apa yang diteriakkan”.

Berteriak sama dengan bersuara keras yang lain. Lantas bagaimana dengan menggunakan load speaker? Ini juga bagian dari bersuara keras. Dalam bulan Romadhon ini, suara-suara keras keluar dari masjid-masjid sampai jauh malam. Membangunkan roh?

Anomali dalam Kemiskinan

Posted by: dewipadi on: September 12, 2008

Anomali dalam kemiskinan. Anomali yang bermakna sesuatu yang secara logika tidak mungkin terjadi tetapi terjadi. Lalu apa yang semestinya tidak terjadi, tetapi sebaliknya terjadi dalam kemiskinan? Kedermawanan dan keihlasan menolong.

Tidak mungkin bagi seseorang memberikan sesuatu yang bahkan tidak dimilikanya pada orang lain. Tetapi itu mungkin bagi orang miskin. Mereka tetap berupaya memberi walaupun tidak ada. Kisah-kisah mereka ini bisa anda baca dalam kisah perjalanan Agus menyusuri negeri-negeri Stan. Atau seperti Malaikat-malaikat berdebu tulisan Sigit Kurniawan di KOKI yang melintasi pulau jawa dari utara sampai selatan.

Dalam salah satu usahanya mengisi perut, Sigit mengetuk pintu sebuah rumah yang dapurnya sedang mengepul. Si tuan rumah, seorang ibu, muncul membuka pintu. Sigit memohon belas kasihan untuk deberi sedikit makanan pengganjal perut. Ibu itu bilang,”saya cuma menjerang air, tidak ada makanan”. Sigit segera beranjak pergi. Beberapa saat setelah hampir keluar dari desa itu, seseorang menyusulnya dengan tergopoh-gopoh naik sepeda. Ternyata, ibu tadi. Dengan berurai air mata, sang ibu memberinya 3 bungkus mie instant dan uang 5 ribu rupiah.

Di lain kesempatan justru Sigit tidak mendapatkan apa-apa ketika mengetuk rumah-rumah orang kaya. Kebanyakan meraka yang ada adalah curiga.

Begitu juga yang dialami Agus di negri-negri stan. Agus menemukan seorang ibu dan anaknya yang merawat dua anak orang dengan cinta, walaupun mereka tidak memiliki apa-apa, bahkan kue kadaluarsa yang mereka makan. Sebaliknya di Kazakhstan yang kaya raya, dia menemukan bahwa uang adalah segalanya.

Hidup adalah memberi, begitu pesan Andrie Wongso, pendiri harvest yang berarti panen. Panen kebaikan setelah ditanam. Memberi adalah menaman. Banyak-banyaklah menanam agar panennya banyak dan penuh berkah.

Jalan Raya Pos, 200 Tahun Pengisapan

Posted by: dewipadi on: September 4, 2008

Sumber: Kompas

Bekas galangan kapal peninggalan zaman Jepang di kawasan Dasun, Rembang, Jawa Tengah, Senin (4/8), yang produksinya dikirim ke Batavia. Saat ini galangan kapal sepanjang sekitar 50 meter ini hampir tak berbekas.
Jumat, 29 Agustus 2008 | 11:57 WIB

Perjalanan ini melelahkan, berkelit di antara truk dan bus, dibuai elok tanah Priangan dan angin laut di pesisir pantai utara Jawa. Hanya untuk menemui kisah tentang rakyat yang kalah.

Tanggal 1 Januari 1808. Kapal Virginia merapat di Anyer. Gubernur Jenderal Hindia Timur Herman Willem Daendels untuk pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa. Sejak hari itu, Jawa tidaklah sama.

Perubahan dimulai dari sebuah jalan: Anyer-Panarukan sepanjang 1.100-an kilometer.

Lebih dari sekadar jalan untuk mengantisipasi serangan Inggris dari utara Jawa, menurut Werner Rutz (Cities and Towns in Indonesia, Berlin, 1987), jalan ini telah menumbuhkan kota-kota baru, misalnya Pacet, Plered, Weleri, Sidoarjo, Gempol, Bangil, dan Kraksaan.

Pengajar tata kota Universitas Gadjah Mada Sudaryono menyebutkan, kota-kota baru itu semula adalah pasar kecil yang diuntungkan dari lokasinya di persilangan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg). Kota-kota tumbuh memanjang mengikuti jalan.

Kini, hampir separuh penduduk Jawa berdiam di kota-kota tersebut. Namun, pada saat yang sama, itu juga menjadi pipa pengisap kekayaan tanah Jawa ke Batavia untuk kemudian dikirim ke pasar dunia.

Pengisapan kekayaan itu mencapai puncaknya ketika Van Den Bosch menerapkan sistem tanam paksa (cultuur stelsel) di tahun 1830. Pada era inilah, Jalan Raya Pos menemukan fungsi besarnya: menyedot kekayaan Jawa.

Dalam catatan Cliford Geertz (Agricultural Involution, 1963), upaya Belanda meraih pasar dunia dilakukan dengan mempertahankan pribumi tetap pribumi. Sistem yang dikenal sebagai ekonomi mendua: pembangunan dengan mengisap pihak lain.

Peter Boomgaard (Children of the Colonial State, Amsterdam, 1989) menyebutkan, di tingkat desa pengisapan dilakukan pemilik tanah dan perangkat desa yang menjadi pemungut pajak dan mandor. Jawa menjadi perkebunan besar dengan aristokrasi pribumi dan elite desa sebagai kaki tangan Belanda.

Enam puluh tahun setelah kedatangan Daendels, seorang asisten residen Belanda di Banten, Douwes Dekker, menuliskan penderitaan rakyat akibat ekonomi pengisapan itu.

Tuan dan kuli

Dari tanah Multatuli—nama samaran Douwes Dekker—perjalanan ini bermula. Tahun 1860, Douwes Dekker menulis Max Havelaar, kitab tentang derita rakyat yang diisap penguasa. Fragmen Saijah-Adinda dalam Max Havelaar kembali nyata saat mendengarkan kisah petani-petani Banten tentang jawara dan tentara yang memaksa mereka melepas tanah dengan harga murah untuk dijadikan areal industri sejak era 1970-an.

Di Serang dan Tangerang, perjumpaan dengan para buruh pabrik makin mengingatkan pada sistem ekonomi pengisapan warisan kolonial. Ratno, buruh di Serang, mengisahkan, mereka harus membayar kepada para jawara hingga Rp 3 juta untuk kontrak kerja di pabrik selama setahun. Jawara adalah wajah Banten paling purba yang masih nyata hingga saat ini, yang menjadi penghubung antara dua kutub: kuli dan majikan.

Melewati Puncak Pas, mata sempat disegarkan oleh rimbun pepohonan yang masih tersisa dari gambaran tentang keindahan Tanah Priangan. Namun, di balik elok alam dan mojang Priangan, tersimpan kisah tentang petani yang menjadi buruh di bekas tanahnya sendiri. Sebagian besar lahan pertanian di sini telah dimiliki tuan tanah dari kota, terutama dari Jakarta.

Turun dari Cadas Pangeran, tempat ribuan korban pekerja tewas dalam pembangunan Jalan Raya Pos, perjalanan memasuki pantai utara. Cirebon adalah gerbangnya.

TD Sujana, sejarawan Cirebon, menyebutkan, kota ini dibangun dari tebu dan air gula. Pada masanya tebu-tebu dari Cirebon merajai pasar Eropa. Legit air tebu yang diperas dari air mata petani. Menemui petani-petani tebu di Cirebon saat ini serasa disedot ke masa dua abad lalu pada kondisi yang digambarkan Jan Breeman (Control of Land and Labour in Colonial Java, Foris Publication, Holand, 1983).

Jan menulis, di Cirebon Timur pada akhir abad ke-18, tebu merupakan hasil pribumi yang wajib disetorkan kepada VOC.

Semarang, kota yang pernah menjadi bandar besar itu, meredup, menyisakan kota lama yang sekarat oleh hantaman rob dan penurunan muka tanah.

Pati-Rembang-Lasem menjadi kota pesisir yang miskin. Hampir tak ada yang tersisa dari masa lalu, selain ladang garam dengan buruh-buruh yang merana.

Hanya di Juwana, Pati, harapan sedikit muncul, yaitu ketika melihat nelayan Desa Bendar yang tinggal di rumah- rumah gedongan.

Di Tuban dan Gresik, harapan juga berseri ketika melihat pabrik-pabrik menjulang. Namun, kemiskinan ternyata tetap tak terusir.

Titik akhir

Di Porong, Sidoarjo, segala haru-biru pun tumpah: saat melihat rakyat Siring Barat, yang hidup berdampingan dengan maut. Mereka tinggal di tanah yang bergolak, dibekap gas beracun, dihantui bunyi tembok retak dalam tidur. Mereka kehilangan rumah, tanah, masjid, kuburan, bahkan masa depan. Hingga dua tahun sejak lumpur menyembur, tak ada kepastian untuk pindah ke tempat lain.

Di Porong, sejarah 200 tahun Jalan Raya Pos, tamat riwayatnya. Pemerintah saat ini telah merencanakan untuk membangun jalan baru, menggantikan Jalan Raya Pos, untuk melanjutkan jalan itu hingga ke Panarukan.

Dalam tulisan Peter Boomgaard (Children of the Colonial State, Amsterdam/Belanda, 1989), citra Jawa awal abad ke-19 adalah kemiskinan dan kemandekan. Pulau ini dihuni jutaan petani yang harus hidup dari petak-petak tanah kecil dan jutaan kuli yang berusaha untuk bisa hidup di perkotaan yang padat penduduknya.

Dua ratus tahun kemudian, gambaran suram itu ternyata tak beranjak pergi.

Pelajaran dari Raksasa Tua yang Membatu

Posted by: dewipadi on: September 4, 2008

Sumber: Kompas

Gereja SionPortugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis, demikian nama lain gereja Sion yang terletak di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua Raya. Bangunan gereja ini memiliki kemegahan arsitektur serta daya tahan yang kokoh.

Kamis, 4 September 2008 | 08:09 WIB

GEREJA di sudut Jalan Pangeran Jaya Karta dan Jalan Mangga Dua, Jakarta Barat, seperti raksasa tua yang membatu di tengah hiruk-pikuk kemacetan kota. Seorang Satpam mempersilakan. Pintu masuk gereja terbuka. Empat kandelar lilin besar dengan reflektor berbentuk perisai bersimbol Batavia, tergantung di keempat sudut ruang sejak lebih 300 tahun lalu.

Sebuah mimbar bergaya barok karya H Bruyn (1695), berdiri di tengah altar. Di atasnya, terpasang kanopi dari Gereja Kubah di dalam kota Batavia lainnya yang dibongkar Gubernur Jenderal Belanda Daendels, tahun 1808. Mantan Kepala Tata Usaha dan Anggota Majelis Gereja Sion, Hadikumo, Selasa (8/7/2008) siang menjelaskan, pembuatan mimbar bersegi delapan dengan paduan ukiran Cina, Eropa dan India ini, menghabiskan biaya 260 ringgit. Bandingkan dengan biaya pembangunan gereja yang 3000 ringgit di tahun 1695.

Menghadap altar, di sebelah kanan, berderet kursi besar berukir buatan pertengahan abad ke-17. Dibuat khusus bagi para petinggi VOC, termasuk buat gubernur jenderal Belanda. Di tengah atas sandaran kursi yang terbuat dari kayu hitam itu terukir kitab suci yang terbuka. Dikiri-kanannya dua malaikat kecil. Ada pula deretan bangku khusus untuk para penatua dan pendeta.

Di salah satu dinding gereja, ada batu bertulis dalam bahasa Belanda, “Batu pertama gereja ini diletakkan 19 Oktober 1693 oleh Pieter van Hoorn”. Di lantai atas, bagian belakang, terletak orgel tua dengan pipa-pipa panjang. Di samping kiri orgel, tampak sebuah roda besi. Roda bersabuk karet ini berfungsi mengisi angin yang meniup pipa-pipa nada ketika tuts orgel ditekan. “Ada dua orang yang memutar roda besi selama ibadah berlangsung. Tetapi sejak kedua pekerja pensiun tahun 1982, kami menggunakan perangkat listrik untuk mengisi angin,” jelas Hadikusumo.

Ia menjelaskan, sejak dua tahun lalu, gereja yang dirancang Ewout Verhagen dari Rotterdam itu kini dilengkapi delapan AC besar dan pintu masuk lapis kaca. Setiap pekan pertama, orgel digunakan mengiringi koor, sementara sang pendeta berkhotbah di atas mimbar berkanopi. Di serambi gereja, terdapat 11 nisan makam. Awalnya, jumlah makam yang berada di sekeliling gereja mencapai 2.381 makam. Ke 2381 makam itu adalah korban ketika berjangkit wabah penyakit.

Mardijker

Gereja Sion dibangun di atas lahan seluas 6.725 meter persegi dengan luas bangunan 32 X 24 meter persegi. Bangunan ini didirikan di atas tiang pancang kayu besi sebanyak 10.000 batang. Kini, halaman gereja bertiang enam ini menyusut setelah tergusur pelebaran Jalan Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua, masing-masing lima meter. “Bukan hanya halaman gerejanya saja yang tergusur, tetapi juga 200 jemaatnya yang dulunya tinggal di Mangga Dua,” kata Hadikusumo.

Kehadiran Gereja Sion mengantar kita pada kisah panjang kaum mardijker (budak yang dibebaskan dengan syarat memeluk agama Protestan dan menggunakan bahasa Belanda) di Batavia.

Sebelum dibangun gereja, di tempat itu berdiri sebuah kapel atau gereja kecil (1675) bagi para budak Katolik (A Heuken SJ : Gereja-gereja tua di Jakarta Cipta Loka Caraka, 2003). Di sekitar kapel, para budak ini tinggal dan beranak pinak. Mereka berasal dari Bengal, Malabar, Koromandel, dan Srilanka, koloni Portugis di India. Mereka umumnya Katolik dan berbahasa Portugis.

Setelah VOC (Vereenigde oostindische Compagnie) merebut koloni-koloni Inggris, VOC membawa mereka ke Batavia untuk membangun kota. Sejak 1628, cikal bakal kaum mardijker ini membanjiri pinggiran dan kota Batavia. Tahun 1709, jumlah mereka di pinggiran kota mencapai 6.903 jiwa, sementara etnis Bugis 4.959 jiwa, dan imigran China 6.393 jiwa (Remco Raben : Jakarta Batavia, Esai Sosio-Kultural, Banana KITLV, Jakarta 2007).

Gereja Sion dibangun setelah para budak menjadi mardijker. Ketika mulai digunakan, gereja dalam kota rusak, terbakar. Komunitas VOC, para petinggi dan keluarganya, pindah beribadah ke Gereja Sion. Lama kelamaan, gereja menjadi etalase kemewahan kaum elit Batavia. Kaum merdijker pun terusir dari sana.

Mereka lalu pindah ke lokasi yang saat ini disebut Kampoeng Toegoe di Kelurahan Tugu, Koja, dan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara. “Kata Toegoe berasal dari kata, ‘Por “tugu” ese’. Kampung ini terbentuk tahun 1661,” jelas Arthur James Michiels (40), Humas Ikatan Keluarga Besar Toegoe (IKBT).

Tahun 1738, mereka membangun gereja, tetapi dihancurkan orang-orang China dalam peristiwa pemberontakan China tahun 1740. “Mereka menganggap, mardijker adalah kaki tangan VOC,” lanjut Ketua IKBT, Andre Juan Michiels. Tahun 1744-1747, atas kebaikan hati tuan tanah Justinus Vinck, dibangunlah gereja yang baru yang hingga kini berdiri dan dikenal sebagai Gereja Toegoe.

Di akhir abad 18, jumlah kaum Mardijker kian menyusut, sehingga dua kompi mardijker dibubarkan. Kapten terakhir kelompok ini adalah A Michiels, nenek moyang Arthur dan Andre yang meninggal tahun 1833.

Ketika muncul gerombolan bersenjata tahun 1947, sebagian orang-orang Toegoe diungsikan ke Pejambon, Jakarta Pusat (Jakpus) oleh dua sesepuh Toegoe, Mathias Michiels dan Rusjard Michiels. Tepatnya, di belakang Gereja Immanuel, Jakpus.

Kini, jumlah mereka di kedua tempat tinggal sekitar 700 jiwa. Sebagian keturunan mereka, keluarga Salomons, Hendriks, Da Costa, dan Seymons, hilang. Yang berkembang tinggal dari keluarga Abrahams, Andries, Cornelis, Michiels, Quiko, dan Braune.

Perbudakan

Untuk membangun Batavia, awal abad ke-17 VOC membawa banyak imigran, terutama dari kalangan mardijker dan China. Kaum mardijker dibawa ke Batavia sebagai budak setelah Belanda merebut sejumlah koloni Portugis. Ketika Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen berkuasa, ia mengerahkan orang-orang China asal Fukien, China Selatan. Di bawah pimpinan Kapitan So Beng Kong, masyarakat China itu mendirikan kastil dan kota Batavia. Penggantinya, Gubernur Jenderal VOC Adrian Valckenier (1737-1741) melanjutkan kebijakan pendahulunya.

Akibat kaum imigran China bebas masuk ke Batavia, populasi mereka meluap. Remco Raben mencatat, jika tahun 1709 jumlah imigran terbesar di pinggiran Batavia masih didominasi kaum mardijker, maka tahun 1719 jumlah imigran China menjadi yang tertinggi, 7.550 jiwa. Saat itu, jumlah kaum mardijker merosot menjadi 6.634 jiwa. Tahun 1739, jumlah imigran China mencapai 10.574 jiwa, sementara kaum mardijker 5.247 jiwa, dan etnis Bugis 4.521 jiwa.

Meski para imigran China bukan budak, mereka diperas oleh berbagai macam pajak “China” oleh VOC. Pajak-pajak tersebut membuat sebagian besar mereka jatuh miskin. Meski demikian, VOC terus memaksa mereka membayar pajak “China” itu. Nasib mereka tak ubahnya para budak. Tak tahan lagi menghadapi penindasan VOC, tahun 1740, mereka memberontak (baca tulisan “Angke…Genosida 1740”).

Kalangan Feodal

Perbudakan kala itu bukan hanya dilakukan VOC, tetapi juga dilakukan kalangan elit feodal pribumi yang membuka pasar budak di Makassar dan Bali. Di kedua pasar itu, tulis Heuken, kaki tangan kalangan menak dan raja dari Makassar, Bugis, Ende, dan Bali, menyeret orang-orang desa yang tak bersalah dari kawasan Indonesia Timur, menjadi budak.

Dari kedua pasar, para budak dijual ke Batavia. Pasar budak pun meluap. Hendrik E Niemmeijer (Jakarta Batavia, Esai Sosio-Kultural, Banana KITLV, Jakarta 2007) menyebutkan, tahun 1679, dari 32.124 penduduk Batavia, sebanyak 16.124 diantaranya adalah budak! Harga budak pun jatuh karena melimpah. Tenaga murah dan budak yang awalnya dimanfaatkan untuk membangun kota, gudang, pelabuhan dan galangan kapal, akhirnya dimanfaatkan kalangan elit Belanda, China, Arab, serta Melayu untuk kepentingan pribadi mereka.

Para budak bekerja di rumah dan perkebunan kaum kaya raya itu. Para nyonya besar lalu menjadikan jumlah budak yang ada di rumah mereka sebagai bagian dari gengsi mereka. Kaum kaya raya itu bangga bila tampil di tengah publik dengan belasan budak memayungi, membawa bekal, perlengkapan, serta pernak-pernik lain mereka.

Sebagai ilustrasi Remco menulis, orang Bali bernama Wayahan Ayunan yang meninggal tahun 1726, memiliki 22 budak. Sebelas di antaranya datang dari Bali, tujuh orang adalah kelahiran rumah (lahir di rumah majikan), dan empat berasal dari Toraja, Tambora, Kaili, dan Sumba. Tahun 1759, perempuan China bernama Goey Teknio, mempunyai sembilan budak. Tiga berasal dari Bali, dan seorang masing-masing dari Bugis, Sumbawa, Malaka, Makassar, Timor, serta Batak.

Tahun 1860, perbudakan oleh bangsa asing dan elit feodal pribumi di Batavia, berakhir. Maka seharusnya, berakhir pulalah era dimana agama dijadikan iming-iming pembebasan dan kesejahteraan seperti dilakukan VOC terhadap kaum mardijker. Barangkali, itulah hikmah dari kehadiran Gereja Sion.

Mampukah Jujur seperti Orang Jepang?

Posted by: dewipadi on: September 4, 2008

Mampukah Jujur seperti Orang Jepang?
Oleh Endrianto Djajadi – Jepang
Sumber: Kompas(KOKI)

Pagi itu aku pergi untuk menghadiri acara di Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Setelah meluncur dengan menggunakan Tokyu Den en toshi Line tak terasa aku sudah sampai di Shibuya Station.

Keluar dari kereta aku segera bergegas ke pintu karcis, tapi setelah meraba-raba kantong baju dan celana …

Wah … teikiken (abonemen) ku mana ya ..”,

“Hhmm … mungkin terselip diantara buku di tasku atau mungkin sudah aku masukkan ke dompet”

Aku bongkar semua isi tas, isi dompet dan hampir selama 5 menitan akhirnya aku tak berhasil menemukan teikiken ku.

Aku fikir “Hhmmm … mungkin tertinggal di Fujigaoka station kali” waktu memasukkan teikiken memang aku tadi terburu-buru mengejar kereta.

Karena aku tak temukan juga teikikenku akhirnya aku laporkan hal ini kepada penjaga station.

“Pak … tadi saya masuk di Fujigaoka station dengan teikiken  tapi ternyata sekarang hilang teikikennya … bagaimana nih ?”

“Ooo … kalau begitu coba lapor ke kantor pengaduan kalau ada barang yang jatuh atau hilang” kata penjaga station.

Kantornya dimana pak? Dan bagaimana saya bisa keluar dari station ini?” tanyaku

Lalu penjaga station menjelaskan kalau hendak ke kantor pengaduan bisa melewati tangga disebelah sana dan laporkan saja tentang kehilangan teikiken itu. Dia jelaskan hal ini seraya memberi aku tiket agar bisa keluar dari Shibuya station.

Aku segera bergegas keluar station seraya melihat jam tanganku, “Wah sudah jam 12:25 nih … masih ada waktu kayaknya” karena acara mulai jam 14:00.

Setelah sampai di kantor pengaduan, aku jelaskan semuanya kepada pegawai yang sedang bertugas dan dia meminta aku untuk menunggu agar dia bisa konfirmasi ke Fujigaoka Station.

Beberapa menit aku tunggu dan setelah menelpon ke Fujigaoka Station pegawai itu berujar “Di Fujigaoka Station tidak ada teikikennya jadi mungkin jatuh di kereta”.

“Kalau begitu, andaikata ada yang menemukannya apakah saya akan dikabari” tanyaku.

Pegawai itu menjelaskan, kalau ada yang menemukan teikiken tersebut, penemu itu akan memberikan teikiken tersebut ke station terdekat, dan station terdekat akan mengirimkan teikiken itu ke tempat teikiken itu dibuat, jadi mungkin butuh 4-5 hari.

Wah … lama juga pikirku, kalau harus 5 hari pulang pergi ke kantor cukup memakan biaya juga. Setelah aku faham akhirnya aku hanya bisa bersabar, dan aku fikir andaikata itu memang rizkiku Insya Allah teikiken itu akan kembali lagi.

Keesokan harinya aku pergi ke kantor dengan menggunakan tiket biasa, dan setelah sampai di Shinagawa Station tempat aku membuat teikiken aku langsung melapor ke pegawai disana. Di sana aku diminta menuliskan nama dan no. telpon. Dan katanya nanti kalau teikiken ini ditemukan maka mereka akan menghubungiku.

Malam hari setelah kerja, aku balik lagi ke kantor JR untuk menanyakan tentang teikikenku dan ternyata masih belum ada yang mengembalikannya.

Ketika bertemu dengan pegawainya, dia tegaskan lagi, andaikata teikikennya ditemukan aku akan segera dihubungi.

“Pak … kalau saya buat teikiken baru dan nanti ternyata teikiken lamaku ditemukan apakah aku dapat mengembalikan teikikenku yang baru dan Japan Railway perusahaan kereta ini akan mengembalikan uangnya ?” tanyaku.

Penjaga station berkata kalau nanti ditemukan, tunjukkan saja kedua teikiken tersebut di tempat pembuatan teikiken, nanti teikiken yang baru akan diganti dengan uang.

2 hari telah berlalu dengan menggunakan teikiken yang baru.

Waktu menunjukkan pukul 21:30 pada hari Rabu. Satu station lagi aku akan sampai ke station rumahku di Fujigaoka station. Aku sedang di atas kereta, tiba-tiba aku dikejutkan oleh getaran handphoneku.

Aku berfikir telpon dari siapa ini … malam-malam dan dimulai dengan kode 03 yang berarti telpon dari Tokyo.

“Hallo … ini pak Endrianto?”
“Oh iya pak …”
“Ini pak … kami dari JR ingin mengabarkan bahwa teikiken bapak sudah kami terima”
“Oh begitu ya … kalau begitu besok pagi saya ambil ya”
“Ya silakan pak … mohon bawa tanda pengenal dan juga inkan (stempel nama)”
“Baik pak …”

Telpon aku tutup dan betapa bahagianya aku hari ini mendengar kabar itu. Aku bersyukur kepada Allah atas nikmat ini dan tertegun sebentar.

Aku berfikir di era materialistis seperti ini ternyata ada juga orang yang jujur yang mau mengembalikan teikiken
yang dia temukan.

Keesokan harinya aku datang ke kantor pengaduan di Shinagawa station.

“Saya endrianto pak .. mau mengambil teikiken yang terjatuh”

“Oh ya … silakan tunggu sebentar … ada kartu pengenal?”

Aku sodorkan Alien Registration (KTP Jepang) ku dan aku diminta mengisi formulir pengambilan barang yang hilang.  Tulis nama dan alamat saja katanya. Waktu pengambilan sangat cepat, 3 menit juga sudah selesai. Lalu aku katakan bahwa aku sudah membuat teikiken baru, bagaimana cara untuk meminta kembali uangnya, karena akupun tidak perlu menggunakan 2 teikiken dalam waktu yang bersamaan.

“Kalau begitu silakan saja ke Midori guchi (tempat pembelian teikiken)” katanya … Silakan diperlihatkan 2 teikiken ini dan nanti akan diproses pengembalian uangnya.”

Saya tanya … “ini ketemunya dimana ?” Penjaganya mengatakan ditemukan dari tempat yang jauh dari shinagawa dan mungkin terjatuh di atas kereta. Karena memang kereta yang aku pakai yaitu Tokyu den en toshi line sangat panjang.
Sampai shibuya station kereta masuk ke Hanzomon Line dan sampai Oshiage station kereta masuk ke Tobu Line sampai Minami Kurihashi. Mungkin perjalanan dari Ujung Tokyo Den en toshi line sampai Tobu Minami Kurihashi membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 09:15 dan banyak orang yang antri akhirnya aku putuskan untuk ke midori guchinya pada malam harinya.

Malam harinya aku ke midori guchi .. aku jelaskan duduk persoalannya dan langsung saja dengan cekatan penjual karcis meminta aku mengisi nama dan alamat pada satu formulir, yaitu formulir pengembalian uang. Proses ini juga cepat mungkin sekitar 2-3 menit sudah selesai. Dan Alhamdulillah uang dapat kembali 11.140 yen.

Aku membeli teikiken 1 bulan dari 1 Agt-31 Agt sebesar 14.710 yen, karena sudah berjalan 3 hari akhirnya aku harus rela dipotong biaya perjalanan dari rumah ke kantor selama 3 hari ini.

Aku bersyukur kepada Allah ternyata rizki memang tidak akan lari kemana, dan aku tetap berfikir, begitu baiknya orang yang menemukan teikikenku ini, dia bersikap jujur dan mau mengembalikannya. Memang bila kita perhatikan banyak sekali nilai-nilai universal yang telah menjadi kebudayaan orang Jepang antara lain seperti sikap jujur, sikap menepati waktu, bekerja keras dan masih banyak lagi.

Mudah-mudahan kita bisa meniru kebiasaan orang Jepang ini.

Ketegaran seorang suami, ketabahan sang istri

Posted by: dewipadi on: March 18, 2008

Tahun lalu kami mengunjungi seorang teman kami yang berada di daerah Batuaji, Batam. Kami cukup dekat dengan keluarganya. Sang suami bekerja di salah satu PT di Muka Kuning, sebuah kawasan industri di Batam. Sang Istri seorang ibu rumah tangga dengan dua anak perempuan, masing-masing berumur 6 dan 4 tahun.

Sejak melahirkan anak yang ke-2, sang istri menderita arteri sklerosis, radang sendi. Puncak dari sakit yang dialaminya memberikan dampak yang sangat menyakitkan baik secara fisik maupun psikologis. Tubuhnya kurus, hanya tinggal tulang terbungkus kulit. Bergerak sakit seakan-akan sendi-sendi tulangnya akan patah. Setiap hari hanya bisa duduk di kursi yang ada bantalan busanya, jalannya tertatih-tatih. Jika tidur, badan tidak bisa diluruskan. Sangat menyayat hati kalau kita melihat kondisi sang istri.

Betapa tegarnya sang suami. Bagaimana kita tidak terharu, yang mengurus anak-anak, memandikan istri, bersih-bersih rumah, semua dijalankan dengan ikhlas oleh sang suami. Betapa besar cintanya pada anak-anak dan istrinya. Apalagi kalau kita mengingat kebutuhan biologis seseorang, sungguh tidak bisa dibayangkan dengan mudah bagaimana sang suami tersebut bisa bertahan sekian lama………….

Cerita yang paling sedih dari keluarga ini adalah ketika sang istri melahirkan anak yang ke 2. Coba bayangkan, setiap hari suami bekerja dari pagi sampai petang, sang bayi butuh ASI mamanya, sedangkan kondisi ibu mengakibatkan tubuhnya sulit digerakkan. Betapa menderitanya sang ibu tatkala sang bayi merengek meminta kasih sayangnya. Bergerak saja sakit, apalagi sambil menggendong bayi? Tapi pada akhirnya penderitaan sang ibu berbuah manis. Sang anak tumbuh sehat, badannya berisi, bahkan cenderung gemuk dibandingkan dengan kakaknya terdahulu.

Sampai saat ini berbagai macam pengobatan sudah ditempuh, dari dokter sampai orang pintar. Tapi semua belum membuahkan hasil yang memuaskan.

Satu lagi yang membuat sang istri sedih dan harus tabah, yaitu tatkala sang suami harus ditugaskan ke Amerika untuk training, dan itu tidak hanya 1-2 minggu, tapi bisa sampai setengah tahun. Sungguh dengan melihat kondisi keluarga ini, kami merasa menjadi manusia yang paling beruntung. Semoga Tuhan bisa melimpahkan anugrahnya lebih besar lagi kepada keluarga itu.

Hello world!

Posted by: dewipadi on: March 18, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.