Save our life with love

Ketegaran seorang suami, ketabahan sang istri

Posted by: dewipadi on: March 18, 2008

Tahun lalu kami mengunjungi seorang teman kami yang berada di daerah Batuaji, Batam. Kami cukup dekat dengan keluarganya. Sang suami bekerja di salah satu PT di Muka Kuning, sebuah kawasan industri di Batam. Sang Istri seorang ibu rumah tangga dengan dua anak perempuan, masing-masing berumur 6 dan 4 tahun.

Sejak melahirkan anak yang ke-2, sang istri menderita arteri sklerosis, radang sendi. Puncak dari sakit yang dialaminya memberikan dampak yang sangat menyakitkan baik secara fisik maupun psikologis. Tubuhnya kurus, hanya tinggal tulang terbungkus kulit. Bergerak sakit seakan-akan sendi-sendi tulangnya akan patah. Setiap hari hanya bisa duduk di kursi yang ada bantalan busanya, jalannya tertatih-tatih. Jika tidur, badan tidak bisa diluruskan. Sangat menyayat hati kalau kita melihat kondisi sang istri.

Betapa tegarnya sang suami. Bagaimana kita tidak terharu, yang mengurus anak-anak, memandikan istri, bersih-bersih rumah, semua dijalankan dengan ikhlas oleh sang suami. Betapa besar cintanya pada anak-anak dan istrinya. Apalagi kalau kita mengingat kebutuhan biologis seseorang, sungguh tidak bisa dibayangkan dengan mudah bagaimana sang suami tersebut bisa bertahan sekian lama………….

Cerita yang paling sedih dari keluarga ini adalah ketika sang istri melahirkan anak yang ke 2. Coba bayangkan, setiap hari suami bekerja dari pagi sampai petang, sang bayi butuh ASI mamanya, sedangkan kondisi ibu mengakibatkan tubuhnya sulit digerakkan. Betapa menderitanya sang ibu tatkala sang bayi merengek meminta kasih sayangnya. Bergerak saja sakit, apalagi sambil menggendong bayi? Tapi pada akhirnya penderitaan sang ibu berbuah manis. Sang anak tumbuh sehat, badannya berisi, bahkan cenderung gemuk dibandingkan dengan kakaknya terdahulu.

Sampai saat ini berbagai macam pengobatan sudah ditempuh, dari dokter sampai orang pintar. Tapi semua belum membuahkan hasil yang memuaskan.

Satu lagi yang membuat sang istri sedih dan harus tabah, yaitu tatkala sang suami harus ditugaskan ke Amerika untuk training, dan itu tidak hanya 1-2 minggu, tapi bisa sampai setengah tahun. Sungguh dengan melihat kondisi keluarga ini, kami merasa menjadi manusia yang paling beruntung. Semoga Tuhan bisa melimpahkan anugrahnya lebih besar lagi kepada keluarga itu.

Advertisement

1 Response to "Ketegaran seorang suami, ketabahan sang istri"

nice story.. a remind for myself agar selalu memijak bumi.. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.