Posted by: dewipadi on: September 12, 2008
Anomali dalam kemiskinan. Anomali yang bermakna sesuatu yang secara logika tidak mungkin terjadi tetapi terjadi. Lalu apa yang semestinya tidak terjadi, tetapi sebaliknya terjadi dalam kemiskinan? Kedermawanan dan keihlasan menolong.
Tidak mungkin bagi seseorang memberikan sesuatu yang bahkan tidak dimilikanya pada orang lain. Tetapi itu mungkin bagi orang miskin. Mereka tetap berupaya memberi walaupun tidak ada. Kisah-kisah mereka ini bisa anda baca dalam kisah perjalanan Agus menyusuri negeri-negeri Stan. Atau seperti Malaikat-malaikat berdebu tulisan Sigit Kurniawan di KOKI yang melintasi pulau jawa dari utara sampai selatan.
Dalam salah satu usahanya mengisi perut, Sigit mengetuk pintu sebuah rumah yang dapurnya sedang mengepul. Si tuan rumah, seorang ibu, muncul membuka pintu. Sigit memohon belas kasihan untuk deberi sedikit makanan pengganjal perut. Ibu itu bilang,”saya cuma menjerang air, tidak ada makanan”. Sigit segera beranjak pergi. Beberapa saat setelah hampir keluar dari desa itu, seseorang menyusulnya dengan tergopoh-gopoh naik sepeda. Ternyata, ibu tadi. Dengan berurai air mata, sang ibu memberinya 3 bungkus mie instant dan uang 5 ribu rupiah.
Di lain kesempatan justru Sigit tidak mendapatkan apa-apa ketika mengetuk rumah-rumah orang kaya. Kebanyakan meraka yang ada adalah curiga.
Begitu juga yang dialami Agus di negri-negri stan. Agus menemukan seorang ibu dan anaknya yang merawat dua anak orang dengan cinta, walaupun mereka tidak memiliki apa-apa, bahkan kue kadaluarsa yang mereka makan. Sebaliknya di Kazakhstan yang kaya raya, dia menemukan bahwa uang adalah segalanya.
Hidup adalah memberi, begitu pesan Andrie Wongso, pendiri harvest yang berarti panen. Panen kebaikan setelah ditanam. Memberi adalah menaman. Banyak-banyaklah menanam agar panennya banyak dan penuh berkah.